Welcome to official website Community of Marine Conservation (CMC) Acropora UNJ

Jumat, 25 Januari 2013

CMC ACROPORA GOES TO SEAWORLD


PRESS RELEASE

CMC ACROPORA GOES TO SEAWORLD merupakan salah satu kegiatan nonproker dari Divisi P2K yang bertujuan untuk menambah wawasan para acroporan tentang dunia kelautan. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 22 Januari 2013. Sebanyak 15 orang baik dari acroporan, calon acroporan maupun non acroporan mengikuti kegiatan ini. Beberapa acroporan berkumpul di halte busway Velodrome jam 08.00 WIB dan sebagian yang lain berangkat langsung ke halte Ancol. Sesampainya di Ancol pada pukul 10.30 WIB perjalanan sedikit tertunda karena kondisinya hujan dan beberapa acroporan masih ada yang belum datang. Setelah itu dengan menggunkan bis yang difasilitasi Ancol yaitu bis Wara – Wiri kami menuju gedung SeaWorld. Namun karena bis hanya sampai di shelter Gondola dan para acroporan harus berjalan lagi menuju gedung Seaworld. Dengan tiket masuk Ancol dan tiket Seaworld sebesar Rp. 60.000 kita bisa lihat berbagai macam biota laut loh.
Selanjutnya pada pukul 11.30 kegiatan ini dibuka oleh Fathan Hadyan Rizki (ketua CMC Acropora 2012/2013) dan Luluk Nur Farida (Kadiv P2K 2012/2013).
Setelah kegiatan ini dibuka, akhirnya semua acroporan masuk ke dalam SeaWorld. Disana kami mengamati berbagai macam biota yang ada di dalam akuarium SeaWorld. Ada yang menarik nih :D Ternyata akuarium utama di bagian tengah ruangan yang berisi air 1,5 juta liter berasal dari air laut Ancol loh.
Seluruh biota dapat terlihat dengan jelas melalui trowongan bawah akuarium. Disana kita dapat melihat beberapa biota antara lain ikan pari kembang, ikan hiu bambu, kuda laut, anemon, dll. Di SeaWorld ini juga terdapat Touch Pool loh, yaitu kolam terbuka sehingga para pengunjung dapat memegang biota di dalamnya secara langsung. Biota-biota biota yang bisa kita pegang antara lain, ikan pari kembang, hiu bambu, penyu hijau, penyu sisik, dan hiu sirip hitam. Wow !
Setelah puas melihat berbagai macam biota laut di sana, kita juga mengunjungi perpustakaan SeaWorld yang berisi buku-buku tentang kelautan.Tapi jangan salah ! Kita ga sekedar jalan-jalan loh di SeaWorld. Disini masing-masing acroporan dan calon acroporan diharuskan untuk mencari dan mencatat satu spesies untuk dijadikan sebuah artikel. Yang selanjutnya akan di share ke kalian semua.  
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 15.30, kegiatan CMC Acropora goes to SeaWorld pun akhirnya selesai. Semua acroporan kembali ke shelter Gondola untuk menunggu bis Wara-Wiri menuju shelter utama. Pukul 17.00 semua acroporan pulang ke rumah masing-masing menggunakan busway. Semoga perjalanan ini dapat bermanfaat bagi kita semua... 
Sampai bertemu di perjalanan kami berikutnya. 

CMC Acropora, Jelajahi laut tiada henti ~

Sabtu, 19 Januari 2013

Karang Bagi Kehidupan Laut


Karang atau Coral adalah Hewan yg berasal dari Phylum Coelenterata atau Cnidaria. Karang masuk ke dalam Kelas Anthozoa, karena Fase hidup karang didominasi oleh fase Polip atau  melekat pada substrat dan tidak bergerak bebas. Kebanyakan karang adalah Carnivore, karang menangkap Zooplankton dengan tentakel-tentakelnya yang dilengkapi oleh sel-sel penyengat atau nematokista. karang mempunyai banyak bentuk, diantaranya bercabang (branching), meja (tabulate), lembaran(foliose), padat (massive), semi padat (submassive),bentuk menjari(digitate), menyerupai jamur ( mushroom) dan bentuk merayap pada substrat tempat tumbuh atau kerak (encrusting). Karang juga punya syarat-syarat hidup, diantaranya cahaya untukfotosintesis, suhu sekitar 25-30 derajat celcius,salinitas, kejernihan air laut,arus dan substrat yang keras dan bersih. Syarat-syarat tersebut apabisla tidak terpenuhi, maka karang tidak bias hidup dan berkembang dengan baik, berikut cotoh bentuk karang :




 
Karang hidup secara berkoloni sehingga koloninya tersebut juga disebut terumbu karang  atau coral  reef. Terumbu karang merupakan ekosistem terpenting yang ada di laut,karena banyak biota – biota laut yang hidup di terumbu karang. Hewan-hewan yang hidup dikarang seperti, ikan, molusca, echinodermata, crustacea dan banyak biota-biota lainnya. Karang mempunyai warna yang beragam, karena bersimbiosis dengan Zooxanthellae Zooxanthellae adalah tumbuhan microscopis atau disebut alga yang menyelimuti permukaan tubuh Karang. Karang bersimbiosis mutualisme dengan Zooxanthellae, yg artinya saling menguntungkan. Zooxanthella dapat berfotosintesis dan ikut memberikan supali oksigen  dan membantu proses pembentukan kerangka kapur. Sedangkan sisa metabolisme karang berupa CO2 , fosfat dan nitrogen digunakan oleh Zooxanthella untuk berfotosintesis dan pertumbuhannya.

Ternyata karang juga bisa mengalami stress yang ditandai dengan terjadinya proses bleaching. Proses bleaching atau pemutihan terjadi pada saat karang (keras dan lunak) dan hewan-hewan laut lain yang bersimbiosis dengan zooxanthellae kehilangan zooxanthellaenya karena suatu tekanan/stress tertentu. Stress pada karang bisa terjadi akibat kenaikan suhu yang disebabkan oleh Global Warming. Pada saat terjadi kenaikan suhu, zooxanthellae menghasilkan oksigen radikal yang akan merusak jaringan hewan yang ditempatinyaOleh karena itu, mau tidak mau hewan  tersebut harus melepaskan zooxanthellae  untuk mencegah kerusakan jaringan. Jumlah zooxanthellae yang dilepaskan tergantung dari jumlah radikal bebas yang dihasilkan. Efek berikutnya yang ditimbulkan dari kematian terumbu karang adalah berubahan komposisi ekosistem terumbu. Yang selanjutnya mengakibatkan perubahan berantai pada seluruh ekosistem laut. Sedangkan pertumbuhan karang relatif lambat. Pertumbuhan karang hanya beberapa centimeter per tahunnya. Oleh karena itu, apabila karang sudah rusak pertumbuhannya akan memakan waktu lama. Karang juga mempunyai arti penting lain bagi manusia, yaitu karena terumbu karang merupakan pelindung fisik bagi pantai, bagaikan tembok yang kokoh dari terjangan ombak atau gelombang laut. Apabila terumbu karang dirusak atau diambil karang serta pasirnya, maka pantai akan terus terkikis oleh pukulan ombak yang mengakibatkan terjadinya pergeseran pantai kearah daratan,seperti yang banyak terjadi daerah Indonesia saat ini.


                                                                                                           by: Septi Rahmania 




Kamis, 17 Januari 2013

Artikel Kelautan Januari



Artikel Kelautan Desember




Senin, 14 Januari 2013

Lebih dekat dengan Dugong...


Duyung  (seacow)  atau  nama latin Dugong dugon adalah sejenis mamalia laut anggota ordo Sirenia. Dugong dugon   mempunyai tubuh yang besar. Panjang badan Duyung dewasa sekitar 2,5-3 meter dengan berat 225-450 kg.Kulit  duyung tebal, keras dan licin dengan warna abu-abu agak kebiruan. Duyung  memiliki kepala yang bulat dengan mata kecil dan lubang hidung di bagian atas moncong.Duyung memiliki bulu yang terletak di bibir atas yang berguna untuk membantu menemukan makanan. Duyung memiliki ekor mirip lumba-lumba dengan dugong dewasa berwarna coklat muda dan duyung muda berwarna coklat pucat.Sirip mamalia ini berbentuk seperti dayung dan memiliki telinga dan mata yang terletak di sisi kepalanya dengan moncong yang besar.Penglihatan duyung terbatas tetapi memiliki pendengaran yang tajam.
Duyung lebih banyak aktif di malam hari (nokturnal) terutama untuk mencari makanan berupa berbagai tumbuhan laut seperti rumput laut, lamun dan akar-akar tanaman lainnya. Duyung hidup berkelompok dengan anggota antara 5-10 ekor yang terdiri dari induk betina, duyung jantan dan anaknya meskipun terkadang menyendiri. Duyung termasuk binatang yang setia dengan pasangannya dan bersifat monogami.
Duyung mampu hidup hingga berusia 70 tahun. Namun perkembangbiakan ikan ini sangat lambat.Biasanya seekor duyung beranak dalam interval 3-7 tahun sekali dengan melahirkan seekor anak dalam setiap satu periode kehamilan. Duyung hidup di perairan laut yang berair tenang dan dangkal dengan kedalaman sekitar 20 meter yang banyak ditumbuhi oleh lamun. Untuk menghindari predator seperti hiu, induk dugong melahirkan anaknya di perairan dangkal.Masa kehamilan berlangsung selama 12 – 14 bulan. Anak dugong tetap hidup dengan induknya hingga usia 1,5 tahun.
Mamalia ini hanya bisa menyelam selama 6 menit untuk kemudian harus muncul ke permukaan untuk bernapas.Duyung kadang-kadang berada dalam posisi seperti berdiri dengan kepala berada di atas air untuk bernapas. Predator alami dugong antara lain hiu besar, buaya air asin, dan paus pembunuh. Karena gerakannya yang lambat dugong sering menjadi mangsa mudah bagi predator. Suara seperti kicauan, berderit, dan menggonggong digunakan oleh dugong untuk berkomunikasi. Duyung berenang dengan kecepatan 10 km/jam hingga 22 km/jam.
Duyung didaftar dalam status konservasi “vulnerable” (rentan) oleh IUCN Redlist sejak tahun 1982. Dan terdaftar dalam CITES Apendiks I sehingga tidak boleh diperdagangkan secara bebas. Ancaman terhadap populasi dan kelestarian duyung (Dugong dugon) diakibatkan oleh rusaknya ekosistem lamun sebagai habitat duyung. SR


Minggu, 13 Januari 2013

7 Penghuni laut yang baru ditemukan


7 penghuni Laut yang baru di temukan

1.   Dumbo octopi
Secara bersamaan, the Census of Marine Life telah mencatat sedikitnya sembilan dari spesies langka dan primitif  “Dumbo” octopod gelatinous yang hidup di laut dalam, termasuk spesies yang satu ini (Grimpoteuthis sp.) yang cenderung baru dalam sains. Dumbo melayang dalam kegelapan dengan mengepakkan sirip besar mereka, dan mereka dapat tumbuh sepanjang 6 kaki.
2.   Yeti crab
Kepiting berbulu ini sangat tidak biasa sehingga sebuah famili baru harus dibuat untuk mengklasifikasikannya. Nama resminya adalah Kiwa hirsuta. Dan bahkan setelah satu tahun diteliti, para ilmuwan mengatakan masih ada banyak hal yang tidak mereka mengerti. Capit berbulu yang memberikan kepiting ini sebuah juluka mengandung bakteri berfilamen, yang dapat digunakan untuk detoksifikasi mineral beracun dari air yang dipancarkan oleh ventilasi hidrotermal di mana ia hidup.

3.      Neocyema
Ditemukan pada kedalaman antara 2.000 – 2.500 m, hewan panjang yang aneh berwarna oranye ini telah diidentifikasi sebagai neocyema, satu dari lima spesies yang pernah ditemukan. Spesies ini hanya ditemukan di sepanjang pertengahan Atlantic Ridge.


4.      Transparent sea cucumber
Para peneliti dan the Census of Marine Life menemukan teripang aneh ini pada kedalaman 2.750 m. Makhluk ini merayap maju dengan tentakelnya yang banyak pada sekitar 2 cm per mennit ketika menyapukan sedimen yang kaya akan detritus ke dalam mulutnya.


5.      Golden copepod
Makhluk aneh yang luar biasa ini adalah copepoda yang baru ditemukan, seekor crustacea kecil yang diambil dari jurang Atlantik.




6.      Blind lobster
Lobster buta ini memiliki capit panjang yang aneh, yang dimiliki oleh genus langka Thaumastochelopsis, sebuah kelompok yang sebelumnya hanya diwakili oleh empat spesimen. Spesies ini ditemukan oleh Census of Marine Life pada kedalaman 300 m dan merupakan spesies ketiga dari genusnya yang pernah ditemukan.

7.      Benthic comb jelly
Spesies baru dari comb jelly ini (Abyssobenthic ctenophore) ditemukan pada kedalaman yang mencengangkan, 7.217 m di dalam palung Ryukyu di lepas pantai Jepang, adalah ctenofor yang hidup di tempat terdalam yang diketahui. Sebelum spesies ini ditemukan, kebanyakan peneliti tidak percaya jika ada makhluk hidup yang ada pada kedalaman itu.

QS & NK

Galerry

Pelantikan Angkatan 1 (Tahun 2009)


Pelantikan Angkatan 02 (Tahun 2010)
Pelantikan Angkatan 03 (Tahun 2011)


Pelantikan Angkatan 04 (Tahun 2012)

Pelantikan Angkatan 05

Daftar Buku Inventaris CMC Acropora


List Buku Inventaris CMC ..Tertera judul buku dan jumlahnya.. Silahkan yang berminat mau pinjem hubungi Divisi Dermaga :D 

1. Preservation Of The Seas (1) 
2. Crushing Indonesia (2)
3. Marine For The Future (1)
4. Capture Fisheries ( vol 1 no. 1 jan-feb) ( 1)
5. Majalah Scuba Diver (EDISI 1 2011) (1)
6. Majalah Scuba Diver (EDISI 5 2011) (1)
7. Pengelolaan Terumbu Karang di Kepulauan Seribu Tahun 2002-2009 (1)
8. Coral Reer In Japan (2)
9. Petunjuk Teknis Radar Pada Kapal Perikanan (1)
10. Welcome To Indonesia ( 1)
11. Sumatera & Java (1)
12. COREMAP II (1)
13. Maluku- Papua (1)
14. Bali dan Nusa Tenggara (1)
15. Pesona Wisata Kabupaten Pesisir Selatan SumBar (1)
16. Sabang Indonesia Weh Island (1)
17. Sekilas Sejarah dan Seni Budaya Raja Ampat (1)

Kehidupan di Laut Dalam yang Menakjubkan



Kebanyakan orang yang akrab dengan lautan hanya mengetahui kehidupan di zona intertidal, yang masih berbatasan dengan daratan, dan zona epipelagic, zona bagian atas di laut terbuka yang disinari matahari. Meskipun zona ini mengandung kehidupan laut yang berlimpah, namun itu hanya sebagian kecil dari bioma laut yang ada. Pada kenyataannya, sebagian besar dari laut adalah daerah yang gelap, dingin, dan dalam. Penting untuk diketahui bahwa fotosintesis hanya terjadi pada kedalaman 100 - 200 m di bawah permukaan laut, dan sinar matahari mulai hilang sama sekali pada kedalaman 1.000 m atau kurang; sedangkan kedalaman maksimum laut adalah 11.000 m di Palung Mariana. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana makhluk-makhluk dasar laut dapat bertahan hidup dalam gelap, dingin, dan tekanan yang ekstrim?

Cahaya
Makhluk hidup yang tinggal di laut dalam memiliki kemampuan bioluminescence, yaitu reaksi kimia dalam tubuh mikroba atau hewan yang menciptakan cahaya tanpa panas. Namun, cahaya ini sangat lemah dibandingkan sinar matahari, sehingga diperlukan adaptasi sensori khusus. Banyak ikan laut dalam memiliki mata yang sangat besar untuk menangkap cahaya yang minim. Ada pula hewan yang buta dan mengandalkan indra penciuman, sentuhan, dan getaran.

Tekanan
Laut dengan kedalaman 200 – 1.000 m memiliki range tekanan antara 20 – 1.100 atm. Tekanan tinggi dapat menyebabkan kantong-kantong udara, seperti swim bladder, dapat hancur. Selain itu, tekanan tinggi dapat mendistorsi biomolekul kompleks – terutama protein dan membrane – di mana semua kehidupan tergantung padanya. Ilmuwan menemukan bahwa beberapa organisme laut dalam yang telah diteliti menggunakan “piezolytes” untuk mencegah distorsi biomolekul besar akibat tekanan. Salah satu dari piezolytes ini adalah trimetilamina oksida (TMAO). 

Temperatur
Suhu air di laut dalam berkisar antara -1°C – 4°C. Makhluk yang hidup di laut dalam diperkirakan beradaptasi dengan cara yang sama seperti pada makhluk hidup di lautan dangkal daerah kutub, yaitu dengan memiliki protein fleksibel “longgar” dan membran tak jenuh yang tidak kaku dalam dingin.

Oksigen
Perairan di laut dalam memiliki kadar oksigen yang cukup. Hal ini dikarenakan air dingin dapat melarutkan oksigen lebih dari air hangat, dan perairan terdalam umumnya berasal dari lautan kutub dangkal (arus thermohaline). Namun, ada juga daerah yang miskin oksigen di lingkungan zona menengah, di mana tidak terjadi lagi fotosintesis dan tidak ada arus thermohaline. Daerah ini biasanya terletak pada kedalaman antara 500 – 1.000 m di daerah beriklim sedang dan tropis. Ahli Biologi masih menyelidiki bagaimana hewan dapat bertahan dalam kondisi seperti itu.

Makanan
Makhluk laut dalam memiliki mekanisme makan yang menarik karena makanan adalah langka di zona ini. Dengan tidak adanya fotosintesis, sebagian besar makanan terdiri dari detritus – sisa-sisa mikroba yang membusuk, alga, tanaman dan hewan dari zona laut atas – dan  organisme lainnya di laut dalam. Banyak ikan laut dalam memiliki gigi mirip taring yang sangat panjang dan mengarah ke dalam. Ini menjamin setiap mangsa yang tertangkap memiliki sedikit kesempatan untuk melarikan diri

Sabtu, 12 Januari 2013

Mengapa hiu paus sering naik ke permukaan laut ?




Sebuah laporan ilmiah dalam the Journal of the Royal Society Interface mencoba menjawab kenapa hiu paus seringkali bergerak ke permukaan laut - fenomena yang masih secara ilmiah menjadi misteri tentang ikan terbesar di dunia ini.

Hasil riset terbaru dari Australia tersebut menunjukkan bahwa hiu paus dan ikan lain bergerak mendekati permukaan laut untuk menghangatkan diri setelah beberapa 'ronde' berenang di laut dalam.

Banyak ikan besar, termasuk tuna, ikan pedang, marlin, serta sejumlah hiu, diketahui gemar meluangkan waktunya berlama-lama di dekat atau di permukaan laut. Alasannya masih belum jelas. Namun hal ini kerap dilakukan menyusul setelah berenang turun ke perairan dalam - yang diduga untuk mencari makan. Padahal, mereka bernafas dengan insang dan mereka tidak perlu ke permukaan untuk mengambil udara, berbeda dengan paus.

Michele Thums dari University of Western Australian Ocean Institute di Crawley, bersama kolega lainnya memasang tag (penanda) pada beberapa hiu paus - tiga yang dijumpai di Ningaloo Reef in Australia Barat, dan satu di Pulau Christmas.

Alat penanda yang mereka gunakan dirancang agar bisa mencatat informasi rutin tentang kedalaman yang dilalui hiu paus, tingkat cahaya dan temperatur dari air. Hiu-hiu paus tersebut tercatat telah melakukan tiga macam penyelaman: penyelaman 'silih-ganti' di siang dan malam, dimana mereka meluangkan sekitar 10 hingga 20 menit di kedalaman, dan yang ketiga, yang tidak pernah dilaporkan sebelumnya: penyelaman yang sangat lama, sangat dalam selama lebih dari dua jam ! - dan dilanjutkan dengan berlama-lama di permukaan laut.

Temperatur air bervariasi ulai 28 derajat celcius di permukaan, hingga 14 C dari penyelaman terdalam, 300 meter dari permukaan.

Tim peneliti menemukan pola yang jelas: Semakin hangat air yang dijumpai ikan di saat penyelaman, semakin pendek waktu yang diluangkan hiu paus di permukaan setelahnya. Seusai penyelaman yang dalam, dan dingin, mereka meluangkan waktu lebih lama di permukaan, dibanding setelah penyelaman yang lebih dangkal dan lebih hangat.

Penelitian menduga, sebagaimana hipotesis sebelumnya, hiu paus perlu melakukan renang di permukaan (surface swims) untuk mengembalikan suhu tubuhnya ke tingkat yang optimal untuk melakukan proses biologis.
Penempatan tag secara manual pada hiu paus.
Foto: © CI/Mark Erdmann.

A. Bercak kulit yang khas pada tiap individu untuk identifikasi 
B. Tag dengan pemancar satelit dipasang pada dorsal fin hiu paus.
 
Foto: Dr. Mark Meekan / AIMS
Hingga kini sangat sedikit pemahaman biologis tentang hiu paus. Ukuran mereka yang besar dan perilaku migratori (gemar menjelajah) membuat mereka sulit untuk menelliti mereka. Mereka meluangkan waktu yang sangat lama di laut lepas, tidak mudah membuntuti mereka, dan alat penanda juga sering lepas. Tim peneliti harus berusaha keras agar bisa memberi penanda pada empat ikan hiu paus.

Tim mencari hiu paus tersebut terlebih dahulu dengan pesawat terbang, lalu pesawat terbang mengerahkan peneliti lain di perahu ke lokasi tempat hiu paus berada. Setelah menjumpai, tim harus terjun ke air, belum lagi menghadapi kulit hiu paus yang sangat tebal dan kokoh menambah kesulitan pemasangan alat penanda di badan mereka.

Laporan riset mereka menegaskan pentingnya memahami kenapa hiu paus, dan kemungkinan juga pada ikan besar lainnya, meluangkan waktu di permukaan. Sebab pemahaman ini kritis untuk mencari tahu apa yang mengendalikan pergerakan mereka. Memahami pergerakan dan persebaran ikan akan membanti peneliti lebih baik memprediksi respon mereka terhadap perubahan lingkungan, dan tentunya untuk merancang strategi konservasi dan pengelolaan satwa besar ini dengan lebih efektif.

Di Indonesia, Hiu paus (Rhincodon typus) bisa dijumpai di perairan Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua. Hewan dengan sebutan lokal Gurano Bintang ini teramati selalu penampakannya sepanjang musim. Berbeda dengan di Australia yang muncul hanya di musim panas. 

Hewan yang relatif 'jinak' ini semakin tinggi publikasinya di media, membuat minat wisatawan untuk bertemu dengan hiu paus semakin tinggi. Pastinya, keberadaan mereka di permukaan air, dengan tenang dan 'jinak', merupakan bagian rutinitas untuk metabolisme mereka. Pastikan kita tidak andil menggangu proses tersebut.


Jurnal Struktur Komunitas Echinodermata

 STRUCTURE OF COMMUNITY OF ECHINODERMATA FAUNA AT MELINJO ISLAND ,KEPULAUAN SERIBU

Dewi Nurfitriana*, Fitri Yanti, Heni Kristina, Musdaliffah, Pratiwi Widyamurti, Rima Fitriani, Waya Rayini

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta
Jl. Pemuda 10 Rawamangun Jakarta Timur 13220 Telp/Fax (021) 4894909


Abstract


The research was undertaken on Melinjo Island, Kepulauan Seribu at July 2011. Samples were taken by five  transects by far 25 meters from coastline to the sea, each of which consist of five  quadrates of 100 x 100 cm. Results of this research showed that on the site have been identified 64 species of echinodermata  fauna. The most species was  found from Echinoidea class, Diadema sp.

Key words:Echinodermata, Melinjo Island, structure of community.
  

STRUKTUR KOMUNITAS ECHINODERMATA DI SEPANJANG PANTAI BAGIAN SELATAN PULAU MELINJO, KEPULAUAN SERIBU


Dewi Nurfitriana*, Fitri Yanti, Heni Kristina, Musdaliffah, Pratiwi Widyamurti, Rima Fitriani, Waya Rayini

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta
Jl. Pemuda 10 Rawamangun Jakarta Timur 13220 Telp/Fax (021) 4894909

Abstrak

                Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Melinjo pada Juli 2011. Sampel diambil dengan menggunakan lima transek sejauh 25 meter dari garis pantai menuju laut. Setiap transek terdiri dari lima kuadrat yang berukuran 100 x 100 cm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada lokasi tersebut terdapat 64 spesies echinodermata. Spesies yang banyak di temukan yaitu dari kelas Echinoidea spesies Diadema sp.


Kata kunci : Echinodermata, Pulau Melinjo, struktur komunitas.


Pendahuluan
                Hewan yang termasuk ke dalam jasad perairan dibagi menjadi beberapa kelompok. Salah satunya, yaitu identifikasi berdasarkan cara hidup hewan tersebut yang               dibagi atas 5 (lima) kelompok, yaitu neuston, perifiton, plankton, nekton, dan bentos. Salah satu organisme yang mudah diamati adalah bentos.
                Bentos adalah organisme yang mendiami dasar perairan dan tinggal di dalam atau          pada sedimen dasar perairan. Berdasarkan cara pengambilan nutrisinya bentos dibagi           menjadi dua, yaitu fitobenthos dan zoobenthos. Zoobentos adalah hewan yang sebagian      atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik sesil, merayap maupun          menggali lubang (Payne, 1996 dalam Sinaga, 2009). Zoobentos ini dibedakan lagi berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu mikrozoobentos dan makrozoobentos. Makrozoobentos merupakan kelompok hewan, berukuran lebih besar dari 1 mm yang hidup di substrat dasar perairan.
                Peranan makrozoobentos dalam perairan ada 2 yaitu berperan secara ekologis dan          berperan secara ekonomis. Peran secara ekologis yaitu dapat digunakan sebagai        parameter biologi dalam menentukan kondisi suatu perairan (Purnomo, 1989 dalam Sinaga, 2009). Sedangkan peran secara ekonomis yaitu beberapa jenis makrozoobentos               (misalnya kepiting) dapat menjadi sumber protein sehingga dapat diperjualbelikan dan dijadikan mata pencaharian.
                Habitat dari makrozoobentos beragam tergantung dari spesies. Contoh habitatnya seperti pada lumpur, pasir, lumpur berpasir atau pasir berlumpur. Dapat juga berupa batu-batu pipih dan batu kerikil.
                Parameter yang mempengaruhi makrozoobentos ada dua, yaitu parameter fisika             dan parameter kimia. Parameter fisika berupa temperatur, warna dan kekeruhan air, substrat dasar, dan kecepatan arus. Sedangkan, parameter kimia berupa salinitas, oksigen                 terlarut/Dissolved Oxygen (DO), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan pH.
                Bentos dapat dibedakan dengan beberapa cara, salah satunya yaitu dengan cara             mengidentifikasi ukuran dari bentos tersebut, pengklasifikasian menurut ukuran mereka dibagi menjadi 3 yaitu:
a). Microfauna: hewan yang memiliki ukuran lebih kecil dari 0,1 mm, seluruh protozoa masuk dalam golongan ini,
b). Meiofauna: golongan hewan-hewan yang mempunyai ukuran antara 0,1 mm sampai 1,0 mm. Ini termasuk protozoa yang                 bergolongan besar, cnidaria, cacing-cacing yang berukuran sangat kecil, dan beberapa     crustacean yang berukuran sangat kecil,
c). Macrofauna: Hewan-hewan yang mempunyai ukuran lebih besar dari 1,0 mm. Ini termasuk golongan echinodermata, crustacea,annelida, mollusca dan beberapa anggota phylum yang lain.
                Echinodermata adalah berasal dari bahasa Yunani, Echinos berarti landak dan Derma yang berarti kulit. Semua jenis Echinodermata hidup di laut, mulai dari daerah          litoral sampai kedalaman 6000 m. termasuk dalam filum Echinodermata antara lain                 bintang laut, bulu babi, teripang, dan lain-lain. Umumnya berukuran besar, yang terkecil                 berdiameter 1 cm (Brotowidjoyo, 1994).
                Habitat dari Echinodermata berada di daerah rataan terumbu karang. Binatang ini dapat menempati beberaapa habitat seperti rataan pasir (sand flat), timbunan karang mati (rubbles dan boulders) dan daerah tubir karang (reef margin area). Di Indonesia penyebaran binatang ini mengikuti penyebaran karang batu dan dapat juga ditemukan di daerah pulau-pulau karang atau daerah pesisir yang ditumbuhi karang batu (fringing reef) (Kobayashi dan Nakamura, 1967).  
                Salah satu habitat yang diduga cocok untuk keberlangsungan hidup Echinodermata adalah pada substrat yang terdapat di Sepanjang Pantai Bagian Selatan Pulau Melinjo, Kepulauan Seribu. Pulau Melinjo dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi dan kegiatan menyelam bagi turis domestik atau asing karena diduga memiliki keanekaragaman biota laut yang beragam. Didukung dengan kondisi Pulau Melinjo yang jarang terjamah oleh manusia diduga akan mempengaruhi struktur komunitas Echinodermata.               
                Mengingat pentingnya peran Echinodermata pada perairan, maka perlu dilakukan penelitian tentang Echinodermata di di Sepanjang Pantai Bagian Selatan Pulau Melinjo, Kepulauan Seribu.

Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada hari Minggu, 1 Mei 2011 di Pulau Menjangan dan Senin, 2 Mei 2011 di Pantai Labuan Lalang, Bali Barat.

a.         Tujuan Operasional Penelitian
1)    Mengidentifikasi jenis makrozoobentos.
2)    Menganalisis studi komunitas makrozoobentos.
3)    Mengukur parameter lingkungan.

b.         Metode
Metode yang digunakan ialah metode deskriptif dengan desain survei, dan pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Pengukuran parameter fisik dan kimia dilakukan pada beberapa lokasi berdasarkan topografi makrozoobentos.

c.          Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kamera, lembar pengamatan, alat tulis, kalkulator, wadah spesimen, meteran gulung, meteran jahit, pasak, kuadrat, tali kasur, termometer, pH meter, secchi disc, tongkat meteran, turbidimeter, alat saring, baki plastik, lup, kertas label, dan buku identifikasi makrozoobentos Shells of the World (A.P.H Oliver, 1980).

d.         Cara Kerja Penelitian
a)         Penentuan stasiun
Ditentukan 2 lokasi penelitian, yaitu di Pulau Menjangan dan Pantai Labuan Lalang. Pada tiap lokasi ditentukan masing-masing 4 stasiun pengamatan dan pada tiap stasiun terdiri dari 4 plot.
b)         Pengambilan makrozoobentos
Diambil pada setiap plot yang telah ditentukan dengan cara pengambilan langsung dan dikeruk pada kedalaman ± 5-10 cm. Kemudian disaring dan disortir untuk diidentifikasi.
c)         Pengukuran parameter lingkungan, meliputi:
Parameter fisik: temperatur air laut, penetrasi cahaya, penetrasi (banyaknya) cahaya yang masuk ke dalam air kedalaman air, kecepatan arus, dan kekeruhan air laut.
Parameter kimia: pH air laut.

e.          Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan secara langsung di lokasi penelitian dan identifikasi dilanjutkan di laboratorium.

f.          Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan secara langsung di lokasi penelitian dan identifikasi dilanjutkan di laboratorium.

g.         Teknik Analisis Data
Analisis data meliputi:
a)         Distribusi, menggunakan indeks Morsita (Krebs, 1989 dalam Sinaga, 2009)

Id = n
Keterangan:
Id   = Indeks Morista
n    = Jumlah pot       
x2 =   Kuadrat jumlah individu per plot
untuk total n plot
N    = Jumlah total individu per plot untuk
total n plot

Kriteria (Bengen, 1998 dalam  Sinaga, 2009):
Id = 0…distribusi acak atau random
Id > 1 distribusi kelompok
Id < 1 distribusi normal (seragam)

b)         Kelimpahan

Keterangan:
B    = kelimpahan individu/ m2
T    = luas 1 m2 (10000 cm2)
A    = luas transek pengambilan (m2)
P    = jumlah individu spesies ke-i
S    = jumlah transek pengambilan

c)         Keanekaragaman Simpson (Sinaga dalam Komala, 2002)


Keterangan :
Ds  = Indeks keanekaragaman
d    =  Indeks dominan
ni   =  jumlah individu jenis ke-i
N    =  Jumlah total individu

Kriteria (Hardjosuwarno, 1990 dalam Darojah, 2005):
H > 3,0 → menunjukkan keanekaragaman sangat tinggi
H 1,6 – 3,0 → menunjukkan keanekaragaman tinggi
H 1,0 – 1,5 → menunjukkan keanekaragaman sedang
H < 1 → menunjukkan keanekaragaman rendah

Hasil dan Pembahasan
                Penelitian ini dilakukan pada Pulau Melinjo dibagian Selatan. Dari lokasi tersebut, diperoleh sebanyak 64 spesies Echinodermata yang dapat dikelompokkan menjadi 5 kelas.                                                                                              
                Spesies yang paling banyak ditemukan di Pulau Melinjo adalah dari kelas Echinoidea yaitu Diadema sp. sebanyak 58 individu, sedangkan 2 individu dari kelas Asteroidea spesies Linckia laevigata dan kelas Holothuroidea spesies Holothuria sp.. Namun untuk filum Echinodermata dari kelas Crinoidea dan Ophiuroidea kami tidak menemukan individu dari 2 kelas tersebut. Selain filum Echinodermata, kami juga menemukan spesies dari filum Mollusca, yakni dari kelas Bivalvia spesies Tridacna sp.
                Berdasarkan analisis kami, hasil tersebut disebabkan karena kondisi lokasi penelitian yang jaraknya berdekatan dengan tubir, dan tipe substrat di lokasi tersebut adalah berkarang mati. Membuat berkurangnya keanekaragaman Echinodermata dan ekosistem lamun tidak ditemukan.

























































Tabel 1. Daftar Jumlah Komunitas Echinodermata yang ditemukan Sepanjang Pantai bagian Selatan Pulau Melinjo, Kepulauan Seribu

No.
Kelas
Spesies
Transek
Plot
Jumlah Individu
1.
Crinoidea

-
-
-
-
2.
Asteroidea

Linckia laevigata
2
3
2
3.
Ophiuroidea

-
-
-
-
4.
Echinoidea
Diadema sp.
1
3
8

4
11

2
4
19

3
4
6

5
1

5
3
6

4
7

Arbacia sp.
2
2

1
3
5

1
5.
Holothuroidea
Holothuria sp.
3

3
1
4
4

1

No.
Kelas
Spesies
Transek
Plot
Jumlah Individu
1.
Bivalvia
Tridacna sp.
2
3
1




3
5
1




4
3
1




Jika dilihat dari komposisi jenisnya (lihat Diagram 1), maka kelas yang lebih mendominasi kedua lokasi tersebut ialah Echinoidea. Hal ini disebabkan oleh lokasi penelitian yang sebagiannya terdapat mangrove. Hutan mangrove memiliki beberapa fungsi ekologis. Salah satunya dalah sebagai penghasil sejumlah besar detritus, terutama yang berasal dari serasah (daun), ranting, bunga, dan buah yang gugur. Sebagian detritus ini dimanfaatkan sebagai bahan makanan oleh fauna makrobenthos pemakan detritus, sebagian lagi diuraikan secara bacterial menjadi unsur hara yang berperan dalam penyuburan perairan.







Diagram 1. Persentase komposisi Kelas Echinodermata di Pulau Melinjo


Tabel 2. Nilai parameter lingkungan di Pulau Melinjo
Parameter Fisik
Stasiun 1
Stasiun 2
Stasiun 3
Stasiun 4
Stasiun 5
Suhu
290
290
290
290
290

Parameter Kimia
Stasiun 1
Stasiun 2
Stasiun 3
Stasiun 4
Stasiun 5
pH
7
7
7
7
7




KESIMPULAN
                Jumlah spesies Echinodermata  yang ditemukan di Pulau Melinjo di sepanjang Pantai Bagian Selatan sebanyak 64 individu. Spesies yang banyak di temukan yaitu dari kelas Echinoidea spesies Diadema sp.

SARAN
                Peneliti berharap agar dapat dilaksanakan penelitian lebih lanjut mengenai struktur komunitas Echinodermata sehingga dapat menyempurnakan dan melengkapi data sebelumya.

DAFTAR PUSTAKA
Abercrombie, M., dkk. 1993. Kamus Lengkap Biologi. Jakarta: Erlangga
Aziz, Asnam dan Darsono, Prapto. 2000. Komunitas fauna Echinodermata di Pulau-Pulau Seribu bagian Utara. Jakarta : LIPI
BTNBB (Balai Taman Nasional Bali Barat) dalam Susetiono,dkk. 2010. Penyusunan Panduan Evaluasi Efektifitas Pengelolaan untuk Kawasan Konservasi Laut di Indonesia. Jakarta: LIPI
Burhanuddin, Andi Iqbal. 2008. Peningkatan Pengetahuan Konsepsi Sistematika dan Pemahaman Sistem Organ Ikan yang Berbasis SCL pada Mata Kuliah Ikhtiologi. Makasar: Universitas Hasanuddin
Darojah, Yuyun. 2005. Keanekaragaman Jenis Makrozoobentos di Ekosistem Perairan Rawapening Kabupaten Semarang. Semarang: Jurusan Biologi, Universitas Negeri Semarang
Djufri. 2002. Penentuan Pola Distribusi, Asosiasi, dan Interaksi Spesies Tumbuhan Khususnya Padang Rumput di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Jurnal. Bogor: Institut Pertanian Bogor
Kastawi, Yusuf, dkk.  2005.  Zoologi Avertebrata. Malang : UM Press.
Suwignyo, Sugiarti, dkk. 2005. Avertebrata Air Jilid 1. Depok : Swadaya.
           



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger